• January 14, 2026

Papadaan KMKM

Media Komunikasi & Dedikasi Jama'ah

Backpacker ala ala low budget memang banyak di minati anak muda zaman sekarang, tapi banyak hal yang harus diperhatikan sebelum bertekad untuk memilih backpacker. Kali ini saya Ardi akan menceritakan pengalaman beckpacker low budget saya di Turky.
Hal pertama yang harus diperhatikan saat memutuskan untuk backpacker adalah mental patner dan kali ini saya berangkat bersama patner travel terbaik saya. Ia Bernama Washil, orang siap makan seadanya disaat dompet menipis karna mepet ingin mengunjungi wisata aesthetik bercorak kerajaan Ottoman. Mengapa Wasil? Karna mentalnya sudah teruji saat kami melaksanakan haji dan umrah backpacker sebelum covid melanda.
Perjalanan kami bermula di terminal 3 Cairo, suasana penuh haru ketika teman seperjuangan kerap mengantar saya dan Wasil, mereka mengantarkan kepergian saya dari bumi Cairo, karna saya telah menyelesaikan studi strata satu. Mungkin saja ini menjadi kali terakhir saya menjajakan kaki di Cairo, dan butuh waktu yang lama untuk berkesempatan kembali dan semoga saja saya bisa ziarah ke Cairo dalam waktu dekat. Setiba di waiting room. Kami dipertemukan 6 warga Palestina, begitu girangnya mereka, setelah mendengar kami dari indonesia. Ada hal yang menyentuh hati saya kala itu. Mengapa begitu senangnya bertemu dengan orang Indonesia?

Mereka bilang “karena orang Indonesia telah banyak mengucurkan dana yang tidak sedikit untuk membangun rumah sakit, sekolahan, persediaan air bersih dan masih banyak lagi”. Kata mereka “orang Indonesia dermawan sekali”. Ditambah mereka tidak punya bisa menyambungkan internet di bandara Cairo karna tidak memiliki SIM Card dan saya inisiatif memberikan hotspot agar mereka bisa memberi kabar keluarga mereka di Palestina.
Setibanya di Istanbul, saya dikejutkan dengan suhu yang mencapai 4 derajat pada dini hari. Saat keluar bandara, kami langsung menuju lift (kebawah) kalau di tulisan Turkynya otobus. untuk mendapatkan fasilitas tansportasi bus (havaist). Untuk menuju ke hotel terdekat kami di daerah Sultan Ahmed. Untuk menuju kesana kami pakai bis HVIST-12 tujuan Beyazid Nedan, Tapi turun di Aksaray metro.
Setelah tiba dari bandara menuju Aksaray metro kami menyewa taksi menuju hotel yang telah kami pesan di Tiket.com. Pilihan lain bisa menuju ke taksim (HVIST-16), itu tergantung hotel yg kalian ambil. Tawar saja pakai bahasa Inggris, karena hanya sedikit orang Turky yang bisa bahasa Inggris, Kecuali daerah turis. Mungkin banyak bertanya tanya‼ Bagaimana kami begitu nekatnya tanpa ada yang menjemput, tanpa ada teman yang bersedia menyediakan tempat tinggal ataupun guide pribadi. Jadi kami punya tantangan untuk backpacker tanpa menyusahkan teman teman kami yang ada di istanbul.
Bagaimana tentang transportasi umum?
Oke kita mulai dari hari pertama. Kami tiba pukul 4 hotel. Beristirahat dan jam 11 bergegas untuk menuju ke tempat Iconic Hagia Sophia dengan jalan kaki. Karena hotel kami dekat dengan Hagia sehingga kami cukup jalan kaki 10 menit sudah sampai Hagia Sophia. Sesampai disana ada banyak turis Malaysia,Indonesia, China, Georgia, Eropa dan banyak lagi. Rute setelah mengunjungi Hagia Sophia, kami meluncur Masjid sultan ahmad yang letaknya bersebrangan dengan Hagia Sophia, setelah itu kami ke taman Topkapi.
Di taman Topkapi saya sangat jatuh hati dengan daun maple yang jatuh dan suasana sejuk, rindang, kuning diselimuti oleh dedaunan di Topkapi. Karena saya datang awal Desember, sehingga saya berada di musim gugur menuju musim dingin. Suhu cukup dingin saat itu. Sekitar 7-13 derajat celcius.


Hari ke-Dua
Saya mengunjungi Masjid Cami Sulaymaniye dengan uber sekitar 30tl dan juga dikarenakan berada di daerah dataran tinggi sehingga Ketika kita sudah berada di masjid itu maka kita dapat memandang selat Bosphorus yang indah bersamaan dengan kapal kapal yang melintas dibawah jembatan yang menghubungkan Asia Eropa. Masjid Sulamaniye tidak terlalu ramai seperti di Sultan Ahmed. Sehingga bisa foto lebih leluasa. “Oh..iya sampai sekarang wisata yang kami kunjungi seluruhnya gratis ‼ Alias tidak dipungut biaya.”
Setelah itu kami jalan kaki menuju Masjid yeni dan galatta bridge. Tidak kalah epik. Karena pemandangan selat bosphorus yang memanjakan mata. Tidak cukup dengan hanya memandang dari jauh. Saya memutuskan untuk naik kapal Bosphorus tour sebesar 30tl. Yang berada di Eminonu stasiun. 2 jam untuk keliling Bosphorus untuk melihat Masjid ortakoy, Istana Dolmabahce, Menara Leandros dan banyak lagi. Ketika malam hari saya menuju ke pasar rempahrempah fenomenal di Eminonu dan ke Galatta Tower hanya untuk foto-foto. Lumayan lelah karena kami hanya berjalan kaki.

Setelah itu kami beristirahat di Stasiun Karakoy untuk mengisi data Istanbul card (kartu yang bisa dipakai untuk membayar transportasi umum disana kecuali taksi) data yang disiapkan adalah HES, nomor Turky, alamat, dan beberapa data di paspor. Setelah itu dari karakoy kami menuju Sultan Ahmad pakai trem (kereta listrik dalam kota) dengan biaya sebesar 3,88tl untuk beristirahat di hotel.


Hari ke-Tiga
Kami kali ini ingin melihat salju di Bursa. Jadwal kapal untuk ke Bursa jam 8.30 dan selanjutnya 10.30 di Stasiun Eminonu. Ternyata ekspetasi tidak sesuai dengan realita yang ada, jadwal yang telah kami gadang-gadang itu ternyata ibtal atau batal berangkat karena cuaca buruk di jam 8.20.

Kami langsung berangkat menuju ke Otogar. Kita tidak jadi pakai kapal akan tetapi memakai bus dan memakan waktu lebih lama di perjalanan dari pada menggunakan bus. Sesampai di Otogar kami berangkat jam 10.30 dan sampai Bursa jam 2 siang dari Bursa kami lanjut naik bis nomor 94 menuju
teraferik. Atau kereta gantung untuk melihat lihat salju dan lagi-lagi kereta gantungnya tidak bisa beroprasi karena cuaca buruk. Darisitu kami memutuskan untuk menuju puncak gunung uludag menggunakan jasa taksi yang lumayan menguras kantong untuk melihat salju pertama saya 210tl untuk sekali berangkat.
Sesampai di puncak saya melihat semuanya serba putih bening seperti tisu. Tapi dingin dan angin kencang membuat telinga kami memerah kedinginan dan Suhu disana sudah mencapai – 2 drajat celcius. Disana kami menaiki kereta gantung tanla dinding dan atap. Dingin sekali rasanya ketika berada di puncak kereta gantung rasanya seperti di kulkas bahkan jaket tebal yang disiapkan belum cukup untuk menahan dingin. Setelah puas main salju kami beranjak balik menuju ke Ulu cami, masjid bersejarah di Bursa untuk menunggu bis a35 menuju ke stasiun Bursa. Perlu diketahui di Bursa transportasinya harus memakai Bursa card. Tidak bisa memakai istsnbhl card. Karena beda kota. Beda kartu pembayarannya.

Hari ke-Empat
Kami menuju Besiktas (markas club bola), Istana Dolmabahce, Masjid Ortakoy dan setelah itu dari hotel kami naik trem menuju ke Stasiun akhir kabatas. Karena hujan jadi kami memakai payung, sekalian untuk mempercantik accecoris photo kami. Setelah dari Ortakoy kami menuju Taksim sebuah pasar fenomenal akan tetapi kami hanya makan saja dikarenakan hujan deras disana.


Hari ke-Lima
Kami memutuskan untuk berziarah ke Mawam sahabat Abu Ayyub alAnsori. Sahabat ansor yang rumahnya didiami Rasulullah ketika malam pertama hijrah di Madinah. Untuk menuju daerah tersebut kami memakai trem menuju Eminonu dari Sultan Ahmed setelah itu memakai bus 99a dengan tujuan Eyub. Disana ada beberapa peninggalan Rasulullah, tempatnya cukup terawat dan juga kita akan mendapatkan banyak turis Indonesia berbelanja disana. saya sangat merekomendasikan untuk berbelanja disana karena harganya tidak terlalu mahal seperti di daerah Turis.

Setelah puas berziarah di abu ayyub al ansori, kami menuju ke Masjid al fatih pakai bus 39B. Di Masjid alfatih kami berziarah ke penakluk Konstantinopel Sultan Muhammad al-Fath dan Masjidnya yang megah dan tinggi yang cukup memanjakan mata. Malamnya kami harus menuju ke Indonesia untuk bertemu dengan keluarga dan Untuk transportasi menuju bandara kami memakai bus dari taksim sebesar 35tl yang berangkat tiap jam.

Mungkin itu saja pengalaman yang bisa saya ceritakan. Semoga yang membaca bisa berkunjung ke istanbul juga. Aminn (P)

oleh: Ardi Siddik Kurniawan

Masukkan Komentar