• April 18, 2026

Papadaan KMKM

Media Komunikasi & Dedikasi Jama'ah

Mengenal Buku dan Memperbarui Semangat: Kunjungan Staf Redaksi Papadaan ke Cairo International Book Fair ke 51

Bykmkmpapadaan

Jan 29, 2020

Reporter Majalah Papadaan – Memanfaatkan kesempatan untuk mengunjungi 51st Cairo International Book Fair, Senin (27/01), Staf Redaksi Majalah Papadaan mengadakan rihlah bersama untuk menghadiri momen tahunan tersebut. Bertempat di gedung Egypt International Exhibition Center (EIEC), El-Moshir Tantawy Axis, 10th District, Nasr City, Cairo, pameran buku ini adalah yang terbesar dan tertua di seluruh penjuru Arab. Bagi Masisir pada umumnya dan terkhusus sahabat Papadaan, event ini adalah tempat untuk mencari buku-buku langka dan buku-buku yang dijual dengan harga miring.

Menurut Direktur Istimewa Majalah Papadaan, Muhammad Aqilurrahim, rihlah kali ini bertujuan untuk lebih mengenal lagi arti sebuah buku, mengenal siapa saja sosok yang berperan dalam proses kehadirannya dan menumbuhkan motivasi dalam jiwa para penuntut ilmu dengan cara melihat karya-karya para ulama.

“Tujuannya, lebih mengenal lagi apa arti sebenarnya dari buku itu. Buku itu pasti ada ruhnya. Itulah yang harus kita pahami dan rasakan di sini. Juga, di belakang sebuah buku, banyak orang yang berjuang agar bisa menjadi sebuah bacaan yang bermanfaat dan nyaman. Penulis, pen-syarh pen-tahqiq, editor, layouter dll. Lalu, untuk membangun lagi al-‘azm wal hamasah fi tholabil ilmi. Yaitu, dengan melihat hasil-hasil karya para ulama klasik dan modern,” ujarnya menjelaskan.

Bagi para mahasiswa terlebih lagi para pegiat dunia literasi, buku dan membaca adalah hal yang sangat penting. Sebagai Staf Redaksi Majalah Papadaan, hal ini juga disadari oleh Siti Aabidah KDS dan Rizal Abdul Hakim, sehingga rihlah bersama ke Cairo International Book Fair kali ini memiliki makna dan kesan tersendiri bagi mereka.

“Buku merupakan jendela dunia dan dengan membaca kita bisa menambah wawasan. Tidak hanya monoton dengan satu ilmu saja, tapi ilmu dari berbagai macam ilmu. Penting bagi Masisir untuk membiasakan diri untuk membaca dan tidak pernah lepas dari yang namanya buku, karena Masisir merupakan harapan bangsa dan juga umat Islam di Indonesia. Dan jika Masisir tidak membiasakan membaca, lalu apa kabar kitab-kitab yang telah dipelajari dahulu?” kata Aabidah.

“Menurut saya, ma’radh itu adalah charger; sebagai pengisi daya. Setelah kita selama setahun sudah merasa lelah dan capek, di ma’radh kita di-charge lagi, kita mendapatkan daya. Kita beli buku baru, di sana kita akan mendapatkan bahan dan bekal untuk setahun kedepannya. Tahun depannya kita beli buku lagi, dari situ kita akan selalu terisi dengan daya.” ujar Rizal.

Di akhir wawancara, Aqil menitipkan pesan untuk seluruh sahabat Papadaan. “Teruslah membaca, dengan begitu tulisanmu akan memiliki ruh” pesannya.

Reporter: Muhammad Zainnur Royyan

Editor: Achmad Fauzi

Masukkan Komentar