Tatkala sayyidah Halimah As-Sa’diah mengasuh sekaligus menyusui sayyidina Rasulullah ketika masih belia, betapa ia takjub dengan begitu besarnya barokah yang dibawakan oleh Sang Baginda. Tidak seperti anak-anak biasa lainnya yang ia juga asuh sebelumnya, namun Halimah merasakan ada sesuatu yang berbeda dari anak yang kali ini dia susui, sesuatu yang membuatnya jatuh hati kepada Baginda, menjadikan ia semakin merasa senang untuk mengasuhnya lebih dari anak-anak yang lain.
Diantara keberkahan yang didapati oleh sayyidah Halimah ketika mengasuh Baginda Nabi adalah lewat hewan ternaknya, sungguh heran melihat ternaknya sangat subur menghasilkan banyak susu yang berlimpah sedangkan ternak lain disekitarnya tidak begitu berlebih. Maka mulailah orang lain bertanya-tanya tentang keadaan yang tidak seperti biasanya ini, mereka bersoal kepada sayyidah Halimah:
“Ya Halimah, mengapa engkau dapat menghasilkan susu sebanyak itu..
Bagaimana bisa engkau membuat ternakmu menjadi sesubur itu..
Tunjukkan kepada kami ladang dimana engkau memberi makan hewan ternakmu..
Ajarkan kepada kami cara sehingga bisa menjadi sepertimu..
Perlihatkan apa yang tersembunyi darimu..”
Sesungguhnya tidak ada sesuatu pun yang disembunyikan oleh Halimah, tidak juga ia melakukan sebuah upaya untuk menjadikan semua ini tampak sangat luar biasa. Bagaimanalah Halimah bisa mendapatkan susu segar dari ternak yang sehat, dari manalah semua rezeki yang berlimpah itu, mengapalah semua nikmat tertuju padanya, melainkan semuanya adalah anugerah yang diturunkan oleh Allah tuhan semesta alam lewat anak asuhnya yang berasal dari darah Abdullah bin ‘Abdul Muthalib yaitu Baginda Rasulullah Saw.
….
Setelah habis masa kepengasuhan Halimah, ia pergi untuk mengembalikannya kepada orang tua Baginda Nabi dengan sangat berat hati. Karena senang dan gembiranya sayyidah Halimah dengan anak asuhnya yang satu ini, ia sampai-sampai tidak ingin mengembalikannya kepada Aminah ibunda Rasulullah. Hal itu tidak lain adalah karena barokah yang begitu besar dirasakan oleh Halimah ketika Baginda Rasul ada dalam pangkuannya. Maka ketika ia sudah sampai dihadapan Aminah, ia berkata:
“Sungguh berat hatiku ini untuk mengembalikan Muhammad kepada engkau, melihat betapa banyaknya rezeki yang ada ketika aku merawatnya, maka sudikah engkau membiarkanku untuk membawa Muhammad ini lebih lama lagi bersamaku?
Biarkanlah aku menjaganya hingga ia tumbuh dewasa dan lebih kuat lagi di pedesaanku yang aman lagi nyaman wahai Aminah yang baik hati”
Maka sekali lagi dengan ikhlas hati Aminah melepas putra tercintanya itu kepada sayyidah Halimah untuk dibawa ke kediamannya.
….
Diriwayatkan bahwasannya suatu hari, ketika Baginda yang masih belia sedang bermain bersama kawan-kawannya, datang dua malaikat kepadanya dalam wujud manusia yang berpakaian putih nan bersih. Kedua orang tersebut membaringkan Baginda yang masih belia lantas dengan izin Allah Ta’aala dan dengan cara-Nya yang sempurna, mereka membelah dada Baginda. Melihat hal itu, anak-anak yang lain pun merasa khawatir sehingga mereka pergi berlari ketakutan. Setelah kejadian tersebut, Baginda menghadap kepada Halimah beserta suaminya untuk memberitakan apa yang barusan terjadi kepadanya. Mereka mendapati baginda dengan raut wajah yang telah berubah lantas berkata dengan kefasihan bahasanya:
“Telah datang kepadaku dua orang laki-laki yang berpakaian putih, kemudian mereka membaringkanku lalu membelah dadaku, mereka mengeluarkan sesuatu dari dalam diriku yang aku sendiri tidak tau itu apa, setelah itu mereka mengembalikanku seperti sedia kala lantas pergi meninggalkanku”.
Terkejutlah kedua pasangan suami istri tersebut mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh anak asuhnya itu. Kaget yang dibarengi dengan rasa resah sekaligus khawatir akan sesuatu yang buruk sedang melanda Baginda tercinta.
….
Kemudian, bersama dengan suaminya, sayyidah Halimah pergi ke Mekkah untuk mengembalikan Muhammad tercinta kepada Aminah setelah apa yang menimpanya. Aminah merasakan kepanikan yang timbul dari wajah Halimah lalu bertanya kepadanya:
“Apa yang telah terjadi wahai Halimah? Peristiwa apa yang membuatmu datang kembali kepadaku dan merubah pikiranmu sehingga engkau ingin mengembalikan Muhammad padaku, sedangkan baru beberapa waktu yang lalu dirimu menyatakan masih ingin lebih lama lagi bersamanya?”
Awalnya sayyidah Halimah takut untuk menceritakan kejadian itu kepada Aminah hingga nanti akan membuatnya juga khawatir. Namun setelah meyakinkannya maka Halimah pun menceritakan kejadian yang dialami oleh Baginda Rasul. Mengetahui itu, Aminah merespon dengan tenangya:
“Apakah engkau mengira bahwa semua itu adalah perbuatan setan yang terkutuk? Sungguh bukan wahai Halimah. Demi Allah tidak ada sesuatu pun dari setan dan dari segala bentuk muslihatnya dapat mendekati anakku tercinta, bukankah aku sudah mengabarimu wahai Halimah? Bahwasannya ketika aku hendak melahirkan putraku itu, aku melihat cahaya yang bersinar keluar menerangi seluruh penjuru dunia”
Sungguh diluar dari dugaan sayyidah Halimah juga suaminya. Bukannya Aminah ikut khawatir atau gundah dibuatnya, melainkan ia malah menanggapinya dengan tenang. Betapa Halimah sangat kagum kepada Aminah ibunda Rasul, tak diragukan lagi kebenaran dari apa yang disampaikan olehnya, sungguh memang telah ada pada diri Baginda Muhammad sesuatu yang sangat spesial, sesuatu yang kan membawa semuanya berubah 180° dari kondisi sebelumnya, bak permadani indah menawan yang turun menutupi tikar dibawahnya yang telah kusut nan lusuh.
Kembali Halimah mengasuh dan merawat Baginda tercinta dengan penuh kasih juga sayang. Hingga akhirnnya beliau tumbuh menjadi semakin dewasa dan mulailah terlihat tanda-tanda kepemimpinannya sebagai orang mulia serta petunjuk untuk menjadi insan yang terpilih menjadi Nabi sekaligus Rasul bagi sekalian alam.
Oleh: Fikri Miftahul Huda

