• April 18, 2026

Papadaan KMKM

Media Komunikasi & Dedikasi Jama'ah

Menjadikan Mesir Seperti Yang Kita Inginkan

Bykmkmpapadaan

Mar 31, 2018 #Mesir

“Lautan berada di belakang, musuh berada di depan, tak ada yang dapat dilakukan kecuali ketabahan dan kesabaran”

-Thariq bin Ziyad-

 

Sejarah mencatat dengan tinta emas kemenangan gemilang umat islam dalam menaklukan Andalusia pada tahun 711 M, saat itu jumlah umat islam yang hanya 13.000 dengan pimpinan Thariq bin Ziyad berhasil mengalahkan tentara Roderick yang berjumlah 100.000 orang. Yang menarik dari sejarah ini adalah khotbah Thariq sesampainya di pantai Andalusia, khotbah yang sederhana itu mampu memberikan semangat baru untuk pasukan Muslim dalam menghadapi musuh.

Analogi sejarah di atas hampir dapat kita kiaskan dengan mencari ilmu ke Ardh Anbiya ini, ketika roda pesawat menyentuh landasan Cairo International Airport, sama halnya dengan berlabuhnya kapal pasukan Thariq di pantai Andalusia. Saat itu tidak ada jalan untuk kembali ke tanah air atau memikirkan hal lain, menciutkan nyali untuk berjuang mencari ilmu di Negeri Seribu Menara ini. Ya, tidak ada yang dapat dilakukan kecuali bertahan dengan ketabahan dan kesabaran. Hanya ada dua pilihan, menjadi pemenang dan meraih kesuksesan atau menjadi golongan orang-orang yang kalah dengan menyia-nyiakan waktu dan keadaan.

Ada sebuah kunci agar terus bersemangat, bahwa selama masih berpegang teguh kepada niatan awal menuntut ilmu, seburuk apapun keadaan Mesir tidak akan berpengaruh kepada kita, segala sesuatu yang terjadi tidak akan menjadikan kita orang yang putus asa untuk terus berjuang menggapai ridha-Nya.

Harus diakui, godaan di Kairo sangatlah besar, bahkan mungkin lebih besar dari Indonesia, sedikit terlena kita akan terkena virus yang sulit disembuhkan. Tidak sedikit Masisir yang hanya menghabiskan waktunya di atas tempat tidur, dunia maya ataupun di depan komputer. Disisi lain tidak sedikit pula yang bisa mempertahankan diri untuk selalu ke kuliah, rajin talaqqi, aktif kajian ataupun aktif organisasi. Namun kenyataan disekitar kita, kondisi pertamalah yang lebih banyak di dapatkan.

Menjadi mahasiswa yang profesional merupakan idaman. Tidak ada yang melarang kita tidur, bemain gadget atau menyaksikan bioskop di depan komputer. Akan tetapi membuat seimbang beberapa hal di atas adalah tuntutan. Dunia ini bukan hanya berada di rumah dan di dunia maya saja, kita akan mendapatkan hal baru yang lebih bermanfaat apabila kita mengetahui manfaat dan faedah yang dapat diambil dari negara gudang ilmu ini. Berapa banyak sumber-sumber ilmu yang tersebar di negeri ini dan belum sempat terjamah oleh kita?

Di samping itu, kata mutiara yang mengatakan “Sesungguhnya waktu kosong, masa muda dan kekayaan adalah sebenar-benar perusak”  adalah tantangan bagi kita. Dua poin yang menjadi perusak ada dalam diri dan jiwa kita, waktu kosong dan masa muda. Kuliah tidak wajib, tinggal di tempat  terpencil dan musim dingin merupakan godaan untuk tetap menimbun diri di bawah selimut, ditambah lagi dengan godaan di waktu muda. Tanpa kontrol yang baik, diri kita  akan terombang ambing tak karuan selama di Mesir, hasilnya adalah manusia malas, minimalis dan skeptis yang layak dijuluki  the looser.

  Belum lagi nuansa eksklusif  yang sampai saat ini masih terasa cukup kental , akibatnya beberapa anggota merasa kesulitan dalam beradaptasi dengan rekan-rekan Masisir lintas daerah. Tidak diragukan lagi, bahwa potensi anggota KMKM amat sangat besar, tidak kalah dengan rekan-rekan Mahasiswa Indonesia lain. Namun sampai saat ini, potensi besar itu masih terpendam dikarenakan kurangnya wadah penyaluran. Kalau anda keluar dari keterasingan dan keterpencilan, anda akan mendapatkan bahwa apapun potensi yang anda miliki dapat dikembangkan dan diasah, dengan syarat harus mulai membuka diri dan aktif berinteraksi dengan rekan-rekan lain daerah.

Selain itu, menciptakan situasi yang kondusif untuk mensukseskan proses mencari ilmu, juga menjadi poin penting penunjang keberhasilan kita menghadapi godaan-godaan Kairo. Teman serumah merupakan panutan, entah itu baik maupun buruk. Bahkan ada adigium yang mengatakan, “Apabila anda ingin mengetahui seseorang, jangan melihat kepada orangnya, tapi lihatlah orang-orang yang berada di sekelilingnya”. Apabila teman serumah kita cenderung untuk menyia-nyiakan waktu dan masa muda, kemungkinan kita untuk terpengaruh amatlah besar. Makanya ketika kita menemukan ketidaksesuaian  kondisi rumah dengan niat dan tujuan awal, pindah merupakan solusi terakhir ketika kita tidak mampu merubah kondisi tersebut.

Bahasa sampai  saat  ini juga menjadi kendala setiap Mahasiswa Indonesia dalam bergaul dengan masyarakat setempat. Bahkan ada beberapa mahasiswa yang sampai tahun kedua atau ketiga belum bisa berkomunikasi lancar walaupun hanya dengan ‘ammu atau rayyis. Lalu bagaimana bisa bisa dia memahami dosen ketika kuliah, atau memahami ulama ketika  talaqqi  atau khotbah?

Pemaparan di atas semoga dapat membuka mata hati kita agar selalu berusaha memperbaharui niat dan bermuhasabah diri, sudah berapa banyak pengalaman yang didapat selama beberapa tahun disini. Tanpa mengetahui, berapa lama lagi bisa hidup di Kairo ini. Banyak cara yang dapat kita lakukan untuk sekedar menjadikan Mesir sesuai yang kita dambakan. Kuncinya terletak pada kemauan dan tekad masing-masing.

Setidaknya generasi tahun ini merupakan generasi pembaharu dalam lingkup sederhana kekeluargaan kita KMKM. Cukuplah para kakak-kakak kelas (Senior) yang menjadi korban keganasan Kairo. Adik-adik mahasiswa baru yang masih suci, janganlah terpengaruh dengan segala macam godaan dan tetap pertahankan tujuan awal  sebagai tholibul ilmi. Jadikan Mesir seperti apa yang kalian inginkan dan kalau bisa, salurkan semangat-semangat kalian kepada kami sebagai mahasiswa lama. Sehingga pada nantinya, label alumni al-Azhar yang kita sandang bisa menjadi sebuah kebanggan bukan sebagai beban.(P)

 

Oleh: Wahdi Hafizy Hafiz*

(Repost rubrik Papadaan edisi 73 tahun 2015)

  *Senior KMKM

 

Masukkan Komentar